Aktivitas keluargaku di malem
hari yaitu makan malam dan membanggakan hal – hal yang dicapai kakakku.
Sebetulnya aku malas banget gabung
dengan mereka seolah – olah aku dianggap
nggak ada. Memang prestasiku nggak sebagus kakakku. Kakakku pandai, penurut,
rajin dan nggak pernh neko – neko. Sedangkan aku berlawananaan dengan kakakku,
aku nggak begitu pandai, suka ngehabisin waktu bareng temen – temen, eksperimen
ala mawut, pokoknya hal – hal yang bersifat menyenangkan versi diriku.
“eh ya stev gimana dengan
komunitas skateboard.” Tanya brian.
“biasa aja.” Jawab brian stev
cemberut.
“kamu ini ditanya kakakmu baik –
baik jawabnya gak nyenengin gitu.” Tanya mamanya.
“emang kondisinya kayak gitu,
tahun ini nggak ada kompetisi jadi ya Cuma latiham biasa.” Jawab Steven
“kala sekiranya nggak berguna ya
gak usah dilanjutin lah.” Kata mamanya.
“nggak ada gunanya gimana sih,
ma. Aku kan udah beberapa kali memenangin pertandingan, kayak gitu masih
dibilang nggak ada gunanya.” Jawab steven kesal.
“maksud mama bukan prestasi kayak
gitu. Coba lihat kakakmu dia nggak senoko – neko kayak kamu jadi prestasinya
juga bagus.” Penjelasan mamanya.
“jelaslah mama banggain anak mama
kan Cuma kakak.” Jawab Steven sambil mengunyah makanan.
“kamu ini ngomong apa ?” jawab
mamanya kesal.
Steven hanya terdiam.
“udah – udah stev juga
berprestasi mah, pialanya kan juga udah banyak.” Kata Brian
“nggak usah dibelain emang aku
nggak sebaik kakak kok. Dah males lama – lama di sini.” Kata Steven.
Steven mencuci piringnya dan
menuju ke kamar. Di keluarga ini meskipun ada seorang pembantu tapi mereka
harus mencuci piring atau gelas yangb habis mereka gunakan. Pembantu hanya
bertugas membersihkan rumah, mencuci pakaian, dan memasak.
Dikamar stev terilihat sangat
kessal. Prestasinya nggak pernah diakuin sama keluarganya. Hal yang dilakuin
stev saaat seperti ini hanya mendengarkan musik dengan headset dan main game di
ponselnya agar dia bisa mengembalikan moodnya. Tiba – tiba ada seorang mengetuk
pintu kamar steven. Steven gak mendengar ketukan pintu itu, dia masih asik
dengan gamanya. Eemudian sesosok dibalik pintu akhirnya masuk ke kamar steven.
Orang tersebut ternyata ayahnya steven. Ayah steven kemudian duduk mendekati
steven. Ketika mengetahui ayahnya masuk steven langsung melepaskan headseetnya.
“stev omongan mama nggak usah
kamu pikirin. Kamu dan kakakmu sama hebatnya kok. Tidak semua orang mempunyai
keahlian yang sama. Begitu juga dengan kamu dan kakakmu, kamu ahli di bidang
sport dan kakakmu ahli di bidang akademik. Papa bangga kok dengan prestasi yang
telah kamu capai.” Nasehat papa steven.
“nggak kok pa, udah biasa
digituin mama, jadi nggak usah merasa bersalah.” Jawab steven.
“maafin mamamu ya. Papa jarang
makan malam di rumah jadi nggak tahu apa saja yang sering kalian
perbincangkan.” Kata papanya.
“iya pa.” jawab Steven lemas.
“ya sudah kamu buruan tidur.
Besok biar nggak kesiangan.” Jawab papanya pasrah.
“oke pa, makasih pa.” kata Steven
sambil menarik selimutnya.
Papa steven hanya mengangguk dan tersenyum
dan setelah itu steven berhenti memainkan gamenya dan segera memejamkan mata.
Di sekolah steven juga nggak
nyaman karena para guru – guru juga banyak yang mebandingkan steven dan
kakaknya. Di kelas steven juga seenaknya sendiri ramai dengan temannya,
ngobrol, dan nggak pernah mencatat materi pelajarannya.
“bete nih nggak di rumah nggak di
sekolah selalu aja dibandingin sama Brian.” Kata Steven.
“udah nggak usah dipikirin, buang
– buang waktu aja.” Timbrung Indra.
“iya ya, kok gue bego banget ya.”
Jawab Steven.
“udah lam kalee. Kalau lo pinter pastinya
Brian tersisihlah.” Ejek Indra.
“kampret lo.” Jawab Steven kesal.
Suasana hati Steven yang tidak
baik sehingga dia sehabis pulang pergi di tempat biasanya dia bermain skateboard.
Steve terpacu untuk latihan yang lebih serius. Walaupun mamanya nggak pernah
mengakui bakatnya tapi dia tetap berjuang hingga menjadi yang terbaik.
Setiba di rumah Steven tidak ikut
makan malam bersamanya. Dia langsung tidur karena kelelahan udah seharian dia
latihan. Ayah Steven mencemaskan keadaan Steven. Dia menengok Steven ke
kamarnya dan ternyata Steven sudah tertidur pulas. Ayahnya sebetulnya tidak
tega melihat Steven yang nggak pernah dibanggakan oleh mamanya. Beberapa waktu
orang tua Steven sempat bertengkar beberapa kali karena membandingkan Brian dan
Steven. Untungnya Brian dan Steven tidaj mengetahui hal tersebut sehingga tidak
menimbulkan konflik diantara mereka.
Ujian Sekolah dan Ujian Nasional
sudah semakin dekat sehingga murid kelas X dan XI sering pulang pagi.
Kesempatan itudigunakan Steven untuk lebih giat berlatih bermain skateboard. Hobby lain yang digeluti Steven yaitu bermain basket.
Terkadang dia dan kawan – kawannya bermain di kompleks deket rumahnya. Di SMA
nya Steven termasuk orang baru sehingga belum sampai mengikuti perlombaan.
Hari ini Steven libur karena baru
diadakan try out untuk murid kelas XII. Steven dan teman – temannya berencana
bermain basket. Steven senang hari liburnya terisi dengan hal – hal yang
menyenangkan. Steven juga termasuk orang yang nggak suka berdiam diri di rumah.
Di rumah kalau punya sparetime biasanya dia gunakan untuk main game.
“wah gue kalah.” Steven sambil
mengelap keringatnya dengan handuk.
“lo sih jarang latihan jadi kalah
teruskan mainnya.” Kata Rony
“lo masih main skatboard ?”
timbrung Andre.
“iya, gue jarang ikut kalian
soalnya gue sering di tempat skatboard.” Jawab Steven.
“emang mau ada kompetisi ya ?”
tanya Andika.
“enggak sih Cuma latihan biar
tambah skill.” Jawab Steven.
“sabtu kita main lagi bisa nggak
lo ?” tanya Rony
“sabtu…….” Steven diam sejenak.
“kayak bisa deh.” Jawab Steven.
“beneran loh, kita tungguin di
sini.” Kata Rony.
“oke.”
Di rumah Brian dan kedua orang
tuanya sering melihat siaran berita bareng – bareng. Steven tidak suka dengan
hal seperti itu sehingga dia tidak pernah gabung bareng mereka. Beberapa kali
Steven diajak Ayahnya buat nonton bareng tapi dia nggak pernah mau. Dulu pernah
sekali dia ikut menonton berita selang waktu 5 menit dia sudah tertidur di
sofa.
Hari Ujian Nasional pun tiba.
Semua murid kelas XII bersemangat untuk menempuhnya. Untuk persiapan biasanya
Brian belajar di pagi hari sekitar jam 4 sampai 6 pagi. Brian anak yang tekun
sehingga dia sangat giat belajar. Walaupun dia sudah pintar tetapi dia masih
terus belajar. Dia tidak pernah meremehkan suatu pelajaran. Karena digunakan
untuk ujian maka Steven libur sekolahnya.
“Brian kamu sudah siap belum nak
?” tanya mamahnya. “siap ma.” Jawab Brian. “mengerjakannya dengan tenang aja
biar bisa menjawab dengan tepat.” “siap
ma.” “Stev hari ini kamu mau kemana ?” tanya papanya. “mau main basket pa.”
“sketboardmu gimana masih terus lanjutkan ?” “masih kok pa.” “semangat ya
semoga bisa sampai ikut perlombaan.” “amin.”
Siang hari saat orang tua Steven
istirahat mereka pulang ke rumah dan makan siang bersama. Steven nggak ikut
karena dia tidak begitu lapar. Orang tuanya tidak tahu kalau Steven sudah ada
di rumah. Ketika Steven lewat di depan kamr orang tuanya, dia mendengar suatu
perdebatan, kemudian dia menguping pembicaraan kedua orang tuanya. Steven
terkejut ternyata yang menjadi perdebatan yaitu dia dan kakaknya. Steven sedih
mendengarkan perdebatan itu. Selama ini hanya papanya saja yang membanggakan
prestasinya, itupun kalau papanya saat ada di rumah. Tiba – tiba pintu kamat
orang tuanya terbuka. Orang tuanya sangat kaget melihat Steven.
“Stev kamu sudah lama di sini ?”
tanya papanya.
“lumayan pa.” jawab Steven.
“nggak usah dipikirin pembicaraan
papa dan mama.”
“nggak lah pa aku kan emang bukan
anak kalian. Anak mama dan papa kan Cuma Brian.”
“ngomong apaan sih kamu itu.”
Jawab mamanya.
“loh kan bener apa mama pernah
menganggap aku ada ? tiap hari Cuma Brian terus. Kalian nonton bareng juga
bertiga. Mungkin aku ini anaknya bik Sumi karena Cuma dia yang memperhatikan
keseharianku.” “kamu ini ngomong sama orang tua nggak ad hormat sedikitpun.”
Kata mamanya. “sudahlah ma.” Kata papanya. “ngapain aku harus hormat sama
kalian, kalian kan bukan orang tuaku. Sana anak anaknya ditungguin baru ujian
entar kecapekan sakit lagi.” Kemudian Steven langsung pergi. Ayahnya memanggil
beberapa kali tapi tidak di dengarkan oleh Steven.
Hari sudah gelap tetapi Steven
belum pulamg. Setiap kali Brian menanyakan Steven orang tuanya hanya menjawab
tidak tahu. Orang tuanya tidak ingin Brian mengetahui permasalahan anatara
orang tuanya dengan Steven karena takut mengganggu konsentrasi Brian yang masih
ujian. Kemudian bik Sumi memberitahukan kepada orang tua Steven ketika mereka
makan malam dengan Brian bahwa Steven akan menginap di rumah temannya selama
satu minggu tetapi tidak memberitahu nama temennya yang ditumpangi.
“anak itu bukannya bilang orang
tuanya malah bilang ke bik Sumi.”kata mama Steven. “inikan juga ulah mama.”
Jawab papa. “gara – gara apaan sih ma ?” tanya Brian. “bukan apa – apa kok nak,
tadi siang Steven dimarahin mamamu mungkin dia masih marah.” “oo gitu ya coba
entar aku hubungi dia.” “iya nanti papa juga mau tanya nginep di rumahnya
siapa.”
Setiap hari papa steven mencoba
menghubunginya tetapi tidak diangkat sama sekali. Pesan SMS juga tidak pernah
di balas. Brian juga mencoba menghubunginya sama saja tidak ada jawaban. Brian
merasa aneh mamanya nggak begitu kawatir terhadap adiknya. Memang mamanya
sedang sibuk tetapi bukan berarti nggak peduli terhadap anaknya. Brian sempat
merasakan keanehan yang ada pada mamanya tetapi orang tuanya selalu menutupi
masalah tersebut.
Ketika liburan menjelang habis
Steven kembali ke rumahnya. Steven pulang sangat malam. Ketika dia sampai di
rumah ayahnya mendengar suara motornya dan langsung bangun membukakan pintu
untuknya.
“akhirnya kamu pulang juga nak.”
“iya pa.” “kamu udah makan belum.” “ udah, Stev capek mau tidur, dah ya pa.”
tetapi ayahnya masih mengikutinya sampai di kamar Steven. “papa mau ngapain ?
aku capek banget pa.”maafin mama dan papa ya udah buat kamu tersinggung. “ “
udah biasa kali pa. udah pa aku mau tidur.” “ya udah kalau gitu selamat malam.”
Kemudian papanya keluar dari kamar Steven.
Pagi hari ketika sarapan Steven
nggak ikut sarapan bareng. Papanya sudah memberitahu kalau dia sudah pulang.
Ketika keluar dari kamarnya Steven langsung berpamitan untuk ke sekolah. Brian
semakin curiga dengan sikap Steven tetapi orang tuanya belum juga memberitahu
masalah sebenarnya walaupun Brian sudah selesai ujian.
Ketika semua penghuni rumah sudah
pada berangkat kerja Brian mencoba menanyakan kejanggalan yang dirasakannya
kepada bik Sumi. Awalnya bik Sumi tidak memberitahu karena sikap bik Sumi yang
terlihat menutup – nutupi. Brian semakin penasaran dan akhirnya bik Sumi
memberitahukan masalah yang sebenarnya dengan ketakutan. Brian sempat shock kok
bisa – bisanya orang tuanya sampai segitunya. Brian menjadi sangat brsalah
terhadap adiknya. Dia kemudian kembali ke kamar untuk mencari cara agar bisa
meredamkan kemarahan adiknya. Steven merupakan orang yang sangat keras kepala
sehingga sulit untuk ditaklukan.
Dari siang sampai sore Brian
menghubungi adiknya tetapi tidak ada jawaban sama sekali. Dia bingung
menentukan cara yang tepat. Waktu makan malam Steven baru pulang dan langsung
menuju kamarnya dan mengunci pintu kamarnya. Sehabis mandi Brian mengetok –
ketok pintu kamar adiknya. Steven hanya menjawab kalau dia sudah mau tidur
padahal kenyataannya tidak begitu. Brian masih ngotot ingin masuk. Akhirnya
Steven nggak menjawab omongan Brian biar dikira dia sudah tidur.
Keesokan harinya sama Steven
langsung berangkat sekolah. Hari ini dia berangkat lebih pagi sehingga
keluarganya tidak tahu kalau dia sudah berangkat. Setiap hari Steven menjadi
semakin terasing karena berangkat pagi dan pulang malam. Brian semakin
kesulitan mendekati adiknya. Ayahnya beberapa kali mencoba banngun lebih awal
tapi masih kalah pagi dengan Steven. Hingga kelulusan tiba. Brian lulus dengan
nilai yang memuaskan dan diterima di Universitas terbaik di kotanya dengan
bidng study guru matematika. Orang tuanya senang sekali tetapi tidak dengan
Steven dia merasa biasa saja karena dimana – mana nama Brian yang dibesarkan.
Teman – teman Steven merasa
kasihan terhadap steven. Steven menjadi orang yang sering diam. Bercandanya
juga tidak seasik yang dulu.
“Stev udah dong jangan baper
gitu. Males nih gue ngelihatnya.” Kata Andika.
“ya udah liatin yang laen aja,
ngapain lo ngeliatin gue.” Jawab steven.
“emang masalahnya belum kelar ya
?” tanya Rony.
“ udah mungkin menurut penduduk
rumah gue.” Jawab Steven.
“lo jadi nge-bete in gitu.” Jawab
Rony kesal.
“udah gue mau tiduran dulu.” Steven
tiduran di samping lapangan basket.
Steven pulang ke rumah pukul 9
malam. Dia sangat terkejut ketika membuka pintu kamarnya. Di sana sudah ada
Brian yang sedang tiduran.
“permisi anda salah kamar.” Kata
Steven yang sedikit kesal. “ohh lo udah pulang.” “kamar lo di lantai bawah
bukan di sini.” “ya maap udah numpang nggak bilang – bilang.” “udah buruan
keluar sana.” “gue mau bicara sama lo.” “bicara apa ? mau pamer lo keterima di
Universsitas yang bagus.” “enggak, sewok amat jadi orang.” “males gue sama lo.
Buruan mau ngomong apa ?” “gue udah tau kok kenapa lo jadi marah banget sama
gue, papa, dan mama,” “ohh orang tua lo udah ngadu ke elo.” “ nggak tu dia
nggka bilang. Aku tahu dari bik Sumi.” “terus lo mau ngapa alau lo udah tahu
masalahnya ? ngapain lo repot – repot ketemu gue buat ngomongin masalah kayak
ginian. Lagian gue juga bukan anak mereka.” “udah dong emosinya. Gue tahu lo
marah, lo nggak dihargai nyokap, lo nggak diperhatiin, tapi sebenarnya gue juga
nggak mau mama bertindak nggak adil sama kita. Aku udah coba berulang kali
ngomong sama mama tapi nggak ada hasil. Makanya aku mau cari cara agar kita
bisa menyelesaikan masalah ini.” “ udah nggak usah gue males. Mendingan lo
pikirin aja kuliah lo daripada mikirin masalah yang nggak jelas ini.” “Stev
dengerin gue dong. Lo keras kepala banget sih.” “biarin, keluar sekarang.”
Steven menyerettangan kakaknya keluar dari kamar dan langsung mengunci pintu
kamarnya.
Di sekolah Steven sudah lebih
mendingan. Ketidakadanya lagi kakaknya di sekolahnya menjadikan ia bernafas
lega. Steve jugasengaja mengambil jurusan yang berbeda dengan kakaknya. Dia
mengambil jurusan IPS yang menurutnya tidak menguras pikiran yang keras.
Brian merasa frustasi mencari
solusi atas permasalahannya. Dia juga dihadapkan persiapan untuk masuk kuliah
sehingga dia sudah tidak memikirkan solusi itu. Dia lebih fokus dengan
kuliahnya. Brian sudah bertemu dengan materi baru artinya dia juga harus siap
berjuang menghadapinya.
Suasana di rumah menjadi terlihat
sangat sepi. Mereka jarang bernincang – bincang seperti dahulu. Ayah Steven
mencoba menasehati dan memberikan dorongan kepadanya tapi Steven tidak terlalu
memperdulikannya. Steven sudah terlanjur sakit hati.
Dua tahun kemudian Steven lulus
dariSMA. Nilainya juga masih kalah dengan kakaknya. Dia sudah mempersiapkan
diri untuk menghadapi mamanya. Waktu itu mamanya melakukan hal yang sama dengan
Brian. Dia menunggu Steven di kamarnya hingga Steven pulang. Mamanya terlihat
kesal karena Steven gagal masuk perguruan tinggi yang sama dengan kakaknya.
Steven hanya menjawab dengan santai.
“kamu ini bagaimana kok bisa
sesantai iti ? kamu itu belum mendapatkan sekolahan masih bisanya bersantai
riya seperti itu.” “tenang aja udah kok ma.” “dimana ?” “di Universitas Swasta
di Bandung.” “apa di luar kota ?” “kenapa kamu nggak isin mama dan papa dulu.”
“[okoknya aku mau sekolah di luar kota. Aku udah males hidup di rumah yang
sumpek ini.” “mama akan membicarakan sama papa. Keputusan besok pagi waktu
sarapan kamu harus ikut sarapan pagi.” “ya ma.”
Keesokan harinya orang tua Steven
sudah ada di meja makan. Steven datang paling terakhir. Orang tuanya
mengijinkan Steven sekolah di luar kota. Orang tuanya sudah mengetahui keras
kepala sifat anaknya sehingga mereka mengizinkan anaknya sekolah di luar kota.
Mereka takut kalau tidak diizinkan Steven akan bertindak yang lebih
membahayakan atau tidak mau sekolah.
Steven mempunyai tekat yang kuat
unttuk meraih kesuksesannya. Diasadar akan sikap yang di perlakukan orang
tuanya. Dia ingin membuktikan bahwa anak yang selama ini tidak pernah menonjol
bisa meraih suatu kesuksesaannya.
Pada saat semester 2 Steven mulai
berbisnis dengan membuka online shop. Dia menjual aneka sepatu, tas dan topi
untuk pria. Usahanya cukup berjalan lancar. Dia kemudian mencoba dengan
berbisnis atribut skatboard. Steven juga mengikuti berbagai UKM di kampusnya
untuk memperluas jaringan pemasarannya. Usahanyasemakin berkembang pesat tetapi
orang tuanya tidak mengetahui hal itu. Setiap bulan Steven masih menerima uang
dari orang tuanya. Diaakan memberitahukan kepada orang tuanya ketika dia sudah
suksess. Seiring berjlannya waktu ada beberapa pesaing bisnis yang bermunculan.
Akhirnya Steven memutuskan untuk cuti selama satu semester. Dia memiliki cukup
modal untuk membangun sebuah temapat yang akan dia gunakan untuk berjualan.
Ternyata pengorbanan Steven untuk menunda kuliahnya menunjukkan hasil yang
memuaskan. Usaha itu semakin pesat. Kalau Steven sedang kuliah dia menutup
tokonya dn kembali jika dia sudah selesai kuliah.
Brian sukses dalam studynya. Dia
menjadi PNS dan bekerja menjadi guru matematika di salah satu SMA tempatia
tinggal. Steven memberikan ucapan selamat kepada kakaknya lewat SMS. Dia
teringat sebetulnya kakaknya tidak sejahat yang dia pikirkan, hanaya saja orang
tuanya yang sedikit membedakannya.
Steven
Selamat ya
sekarang lo udah jadi Guru
|
Steven
Oke. Siap pak
Guru C
|
Brian
Baik. Kurangi
main, inget kamu sekarang uda gede
|
Brian
Iya makasih
ya. Giamana kabar lo sekarang ?
|
Steven mengembangkan bisnisnya
lagi. Dia mendirikan toko yang menjual atribut skateboard. Dia sudah mepunyai satu pegawai yang menjaga toko tersebut sedangkat toko
atunya dia yang menjaga sendiri. Usahanya sukses bisnisnya berkembang luas
tetapi orang tuanya belum mengetahui hal tersebut. Steven sudah sering hidup di
bawah tekanan orang tuanya sehingga dia bisa menjalani kerasnya hidup di luar
kota. Steven juga pernah menjalani kemunduruan dalam bisnisnya tetapi dia
mempunya semangat juang yang tinggi sehingga dia dapat bangkit dari
keterpurukannya.
Ketika hari kelulusan tiba orang
tua Steven datang ke kampusnya untuk menghadiri acara wisuda. Mereka menginap
di suatu hotel yang tidak jauh dari kampusnya. Saat itu juga orang tuan Steven
belum mengetahui tentang bisnis yang telah ia bangun. Steven lulus dengan nilai
cumlaude. Orang tuanya bangga terhadapnya. Sebelum orang tuanya datang jauh –
jauh hari Steven meminta orang tuanya untuk tinggal di kota itu selama
seminggu. Steven ingin memberikan kejutan prestasi bisnis yang telah ia raih.
Sehari setelah acara wisuda
Steven mengajak orang tuanya untuk berkeliling keliling kota bandung. Steven
mengajak orang ke toko atribut skatboard. Orang tuanya sangat terkejut ternyata
anaknya bisa berbisnis hingga mempunyai pegawai. Steven memperkenalkan
pegawainya kepada orang tuanya. Kemudian Steven mengajak ke toko satunya dan
dia menceritakan seluk – beluk apa yang ada di toko itu. Orang tuanya sangat
senang terlebih mamanya. Kemudian Steven dan orang tuanya makan siang di suatu
restauran.
“sejak kapan kamu memulai bisnis
ini nak ?” tanya papa Steven. “sejak semester dua pa.” “kok kamu nggak bilang
sama papa dan mama.” “sengaja pa aku mau ngasih tahu kalian ketika aku sudah
meraih kesuksesanku dalam bisnisku.” “maafin mama ya Stev selama ini mama nggak
pernah perhatikan kamu, hanya karena kamunggak terlihat menonjol.” “iya ma.
Justru karena mama aku bisa termotivasi untuk lebih sukses.” “tu kan ma apa
papa bilang Steven itu berbakat.” “iya mamakan udah minta maaf.”
Kini Steven mempunyai omset yang
sangat luar biasa. Hasil bisnisnya lebih besar daripada pendapatan kakaknya.
Selain itu Steven juga memutuskan untuk tetap tinggal di bandung dan sudah
mempunyai rumah hasil jerih payahnya sendiri. Untuk menambah tabungannya Steven
juga bekerja di salah satu Perusahaan di Bandung. Terlihat jelas kini anak yang
selalu diabaikan menjadi orang yang lebih sukses dibanding anak yang terlihat
selalu menojol.
-SELESAI -
By : Yesika Ari Pradina