Selasa, 17 November 2015

Don`t judge people if you dont know them

Siang yang semakin memanas dan energi menjadi melemah. Pada saat jam istirahat tiba Aleena masih bermalas – malasan duduk di bangkunya. Meletakkan kepalanya diatas meja seperti orang yang tidak mempunyai tenaga.

“kamu kenapa al bete gitu.” Siska datang dan langsung duduk di samping aleena.


“aku laper.” Aleena masih menunduk.


“laper ya ke kantinlah, apa udah lupa jalan ke kantin ?”.


“enggak gitu aku males banget ke sana kantinnya jauh dan udaranya panas banget.”


“yee ilah ayo buruan bangun aku juga laper nih.”


“iya iya bentar.”


Aleena berjalan menuju kantin debgan siska. Sangking panasnya Aleena sampai menghabiskan dua botol air mineral. Mereka berbincang – bincang seputar apapun yang mereka alami. Tiba – tiba datang seorang cowok bebadan tegak lebar , tidak terlalu tinggi, kulit sawo matang, berambut hitam yang tertata rapi dengan seorang temannya. Mereka berdua duduk di belakang meja Aleena dan Siska. 


Cowok itu merupakan cowok yang disukai Aleena. Ketika dia di kelas sepuluh dia sekelas dengan Aleena tapi ketika di kelas sebelas udah beda kelas karena cowok itu mengambil jurusan IPS sedangkan Aleena mengambil jurusan  IPA. Aleena sudah satu tahun memendam rasa terhadap cowok itu. Anehnya Aleena sangat jarang sekali berbicara dengan cowok itu entah malu atau takut salah tingkah mungkin. Cowok itu juga nggak tahu kalau Aleena mempunyai rasa terhadap cowok itu. Ketika bertemudengan cowok itu Aleena bersikap biasa saja tapi ketika cowok itu udah menghilang dia jingkrak – jingkrak seperti cacing kepanasan.


Waktu istirahat sudah habis bel telah berbunyi, Aleena dan Siska kembali ke kelas.wajah Aleena masih terlihat merah merona akibat terpesona sang pujangga.


“kamu sekali – kali nyapa kek. Kan kamu juga kenal sam dia.” Sahut Siska. “gak ah.. takut salting hehehe.” “ kamu ini payah banget kapan si doi tahu kalaukamunya aja gak ada progres deketin dia, tahu tahu entar diembat orang loh.” “entar kalau udah waktunya aku maju deh.” “tapi kapan ?” “kapan –kapan . hehehe… ayo buruan udah masuk nih.”


Saat pelajaran Aleena masih tidak fokus dengan materi yang diajarkan gurunya. Pikirannya masih teringang – ingang dengan wajah cowok yang ada di kantin tadi. Sampai jam pulang sekolah Aleena masih tersenyam – senyum sendiri. Siska hanya melihat Aleena terheran bingung. 


“ayo pulang ntar bibirmu pegel loh senyam – senyum gitu terus.”


“ayo.” Pikirannya Aleena masih pada cowok itu.


Sesampai di rumah Aleena berpikir bagaimana cara untuk dia bisa ngomong sekedar basa – basi di depan cowok yang dia suka. Aleena mencari – cari topik apa yang cocok untuk dibicarakan. Tanpa ia sadari Aleena sampai berbicara sendiri di kamarnya. Dia membayangkan andaikan dia bisa melangkah satu titik untuk mendekati cowok idamannya itu.


Sore itu Aleena mencoba bertanya kepada kakaknya. Dia sebernarnya malu sih kalau mau tanya soal hal itu. Dia takut ditertawain sama kakaknya. Ketika dia membuka kamar kakaknya ternyata kakaknya nggak ada. Terlihat wajah kecewa di raut muka Aleena. Setelah dia bertanya kepada bik Atik ternyata hari ini kakaknya nginep di Kosnya temennya karena ada tugas yang begitu banyak. Aleena semakin kesal mau gak mau dia harus cari cara sendiri. Kemudian ia pergi ke kamarnya dan berpikir lagi untuk mendapatkan cara yang tepat. Aleena kebingungan sudah menemukan cara itu tapi dia tidak berani melakukannya, karena dia sudah kebingungan dan menjadi stress dia akhinya menyalakan televisi dan menonto sambil berbaring di tempat tidurnya. Acara televisi yang membosankan membuat Aleena tertidur dalam beberapa menit dan ketiduran sampai keesokan harinya.


Badan Aleena terasa pegal – pegal karena tidur dalam waktu yang lama. Saat sarapan dia masih memijat – pijat pundaknya. “kamu habis ngapain kok kayaknya kecapean gitu, pijat – pijat pundak terus.” Tanya mama Aleena. “ini ma kemaren aku tidur terlalu lama jadi kayak gini deh.” “kemarin waktu mau makan malem mama bangunin kamu nggak bangun – bangun ya udah mama tinggal deh.” “masak sih ma ?” “iya tanya aja papa kalau nggak percaya, tumben banget kamu tidur lelap banget. Kemarin pelajaran di sekolah banyak banget ya kok kamu sampai kecapaian ?” “nggak juga sih ma, nggak tahu kenapa tubuh seperti ini.” “ntar pulang kerja mama beliin kamu vitamin biar nggak gampang capek.” “nggak usah deh ma, paling ntar udah normal sendiri badanku.” “heh kamu ini vitamin juga membantu kamu biar nggak gampang sakit. Pokoknya nanti mama beliin dan kamu harus minum.” “iya deh ma.” “gitu dong nurut.” “aku berangkat dulu ya ma, pa.” “iya ati – ati nak.”


Hati Aleena tiba – tiba deg – deg an. Dia melihat sesosok cowok idamannya. Aleena bingung mau gimana, dia udah terlihat sedikit salah tingkah. Akhirnya dia memberanikan diri untu menyapanya. Dan alhasil berhasil dia bisa membuat sedikit pebincangan dengan cowok itu. Aleena merasa sangat senang sekali. Dia baru kali ini bisa ngomong agak lam dengan cowok itu. Sesampai di depan kelas bel sudah berbunyi dan Aleena langsung menuju tempat duduknya. 


Waktu pelajaran berlangsung Aleena menceritakan kejadian yang dialaminya tadi pagi. Siska juga senang mendengar kabar tersebut. Siska telah lega akhirnya Aleena berani bergerak di hadapan cowok yang ia sukai. Ini merupakan langkah awal yang baik untuk Aleena. Tanpa mereka sadari guru yang menerangkan mendekati mereka dan akhirnya mereka berdua dihukum.


Keesokan harinya Aleena semakin berani mendekati gebetannya. Dia menjadi sering ngobrol bareng bersamanya. Cowok itu belum menyadari kalau Aleena menyukainya. Suatu ketika teman cowok itu menanyai tentang kedekatan cowok itu dengan Aleena. Cowok itu kaget dia hanya menganggap Aleena sebagai teman biasa dan gak lebih. Cowok itu akhirnya menjadi sedikit sombong. Ketika dia bertemu dengan Aleena menjadi sok jual mahal. Aleena merasakan perubahan yang ada pada cowok itu. Aleena semakin menjadi sedih cowok itu menjadi cuek.


Aleena bercerita kepada Siska tentang perubahan cowok gebetan Aleena. Siska sangat terkejut melihat hal tersebut. Dia menjadi sangat marah dengan cowok itu. Siska menganggap cowok itu hanya ingin mempermainkan Aleena saja.


Pada hari minggu Aleena nongkrong di café yang cukup populer di kotanya. Aleena dan Siska bercerita – cerita tentang hal apapun termasuk kesedihan Aleena. Tiba – tiba cowok itu datang bersama sekumpulan teman – temannya. Awalnya cowok itu bersikap biasa saja tetapi setelah melihat Aleena dia mencoba membuat kecemburuan. Cowok itu bermesra – mesra ria dengan teman ceweknya. Melihat hal itu Aleena langsung meneteskan air mata dan langsung keluar. Aleena sangat kecewa dengan cowok itu.


Cowok itu menganggap bahwa Aleena itu tidak ada apa – apanya, dia hanya memiliki kelebihan yaitu berupa kepintaran tetapi tidak begitu cantik. Aleena tergolong cewek yang biasa saja karena dia merupakan cewek yang tidak suka berdandan. Semakin hari cowok itu semakin terlihat tidak suka terhadap Aleena.


Aleena sempat sakit karena hal tersebut. Cinta pertamanya pupus seketika. Hatinya hancur dan prestasinya sempat menurun. Sebagai sahabat siska tidak hanya diam saja, dia setiap hari memberi semangat untuk Aleena agar dia bisa bangkit dari keterpurukannya.


Beberapa minggu kemudian Aleena mulai bangkit dan hidup seperti biasa. Sakit hatinya itu dijadikan pelajaran bahwa ilmu itu lebih penting daripada jalinan sebuah cinta. Dari peristiwa itu Aleena menjadi lebih sering menyibukkan diri dengan belajar. Belajar hal – hal baru, belajar ilmu pengetahuan, dan belajar memaknai sebuah kehidupan.


Di kelas XII Aleena berhasil memenangkan juara olimpiade matematika. Semua guru sangat bangga kepada Aleena. Aleena mengharumkan nama sekolah tempat ia belajar. Orang tua Aleena juga banggga. Setelah Aleena meraih kesuksesaannya cowok itu mendekati Aleena dan bilang suka padanya. Aleena hanya menjawab terima kasih atas sakit hati yang kamu buat dulu Aleena memang mengidamkan sesosoknya tetapi kini dia lebih mengedapankan prestasinya. Berkat sakit hati A;eena menjadi orang yang lebih pandai dari sebelumnya. 


Cowok itu merasa kecewa karena dulu dia telah mengecewakan Aleena. Dia baru tersadar bahwa kepandaian lebih penting daripada kecantikan. Semenjak kejadian itu cowok itu menjadi malu ketika bertemu dengan Aleena.




By : Yesika Ari Pradina


Tidak ada komentar:

Posting Komentar