Sabtu, 21 November 2015

Emas yang Tersembunyi



Aktivitas keluargaku di malem hari yaitu makan malam dan membanggakan hal – hal yang dicapai kakakku. Sebetulnya aku  malas banget gabung dengan  mereka seolah – olah aku dianggap nggak ada. Memang prestasiku nggak sebagus kakakku. Kakakku pandai, penurut, rajin dan nggak pernh neko – neko. Sedangkan aku berlawananaan dengan kakakku, aku nggak begitu pandai, suka ngehabisin waktu bareng temen – temen, eksperimen ala mawut, pokoknya hal – hal yang bersifat menyenangkan versi diriku.

“eh ya stev gimana dengan komunitas skateboard.” Tanya brian.

“biasa aja.” Jawab brian stev cemberut.

“kamu ini ditanya kakakmu baik – baik jawabnya gak nyenengin gitu.” Tanya mamanya.

“emang kondisinya kayak gitu, tahun ini nggak ada kompetisi jadi ya Cuma latiham biasa.” Jawab Steven

“kala sekiranya nggak berguna ya gak usah dilanjutin lah.” Kata mamanya.

“nggak ada gunanya gimana sih, ma. Aku kan udah beberapa kali memenangin pertandingan, kayak gitu masih dibilang nggak ada gunanya.” Jawab steven kesal.

“maksud mama bukan prestasi kayak gitu. Coba lihat kakakmu dia nggak senoko – neko kayak kamu jadi prestasinya juga bagus.” Penjelasan mamanya.

“jelaslah mama banggain anak mama kan Cuma kakak.” Jawab Steven sambil mengunyah makanan.

“kamu ini ngomong apa ?” jawab mamanya kesal.

Steven hanya terdiam.

“udah – udah stev juga berprestasi mah, pialanya kan juga udah banyak.” Kata Brian

“nggak usah dibelain emang aku nggak sebaik kakak kok. Dah males lama – lama di sini.” Kata Steven.

Steven mencuci piringnya dan menuju ke kamar. Di keluarga ini meskipun ada seorang pembantu tapi mereka harus mencuci piring atau gelas yangb habis mereka gunakan. Pembantu hanya bertugas membersihkan rumah, mencuci pakaian, dan memasak.

Dikamar stev terilihat sangat kessal. Prestasinya nggak pernah diakuin sama keluarganya. Hal yang dilakuin stev saaat seperti ini hanya mendengarkan musik dengan headset dan main game di ponselnya agar dia bisa mengembalikan moodnya. Tiba – tiba ada seorang mengetuk pintu kamar steven. Steven gak mendengar ketukan pintu itu, dia masih asik dengan gamanya. Eemudian sesosok dibalik pintu akhirnya masuk ke kamar steven. Orang tersebut ternyata ayahnya steven. Ayah steven kemudian duduk mendekati steven. Ketika mengetahui ayahnya masuk steven langsung melepaskan headseetnya.
“stev omongan mama nggak usah kamu pikirin. Kamu dan kakakmu sama hebatnya kok. Tidak semua orang mempunyai keahlian yang sama. Begitu juga dengan kamu dan kakakmu, kamu ahli di bidang sport dan kakakmu ahli di bidang akademik. Papa bangga kok dengan prestasi yang telah kamu capai.” Nasehat papa steven.

“nggak kok pa, udah biasa digituin mama, jadi nggak usah merasa bersalah.” Jawab steven.

“maafin mamamu ya. Papa jarang makan malam di rumah jadi nggak tahu apa saja yang sering kalian perbincangkan.” Kata papanya.

“iya pa.” jawab Steven lemas.

“ya sudah kamu buruan tidur. Besok biar nggak kesiangan.” Jawab papanya pasrah.

“oke pa, makasih pa.” kata Steven sambil menarik selimutnya.

Papa steven hanya mengangguk dan tersenyum dan setelah itu steven berhenti memainkan gamenya dan segera memejamkan mata.

Di sekolah steven juga nggak nyaman karena para guru – guru juga banyak yang mebandingkan steven dan kakaknya. Di kelas steven juga seenaknya sendiri ramai dengan temannya, ngobrol, dan nggak pernah mencatat materi pelajarannya.

“bete nih nggak di rumah nggak di sekolah selalu aja dibandingin sama Brian.” Kata Steven.

“udah nggak usah dipikirin, buang – buang waktu aja.” Timbrung Indra.

“iya ya, kok gue bego banget ya.” Jawab Steven.

“udah lam kalee. Kalau lo pinter pastinya Brian tersisihlah.” Ejek Indra.

“kampret lo.” Jawab Steven kesal.

Suasana hati Steven yang tidak baik sehingga dia sehabis pulang pergi di tempat biasanya dia bermain skateboard. Steve terpacu untuk latihan yang lebih serius. Walaupun mamanya nggak pernah mengakui bakatnya tapi dia tetap berjuang hingga menjadi yang terbaik.

Setiba di rumah Steven tidak ikut makan malam bersamanya. Dia langsung tidur karena kelelahan udah seharian dia latihan. Ayah Steven mencemaskan keadaan Steven. Dia menengok Steven ke kamarnya dan ternyata Steven sudah tertidur pulas. Ayahnya sebetulnya tidak tega melihat Steven yang nggak pernah dibanggakan oleh mamanya. Beberapa waktu orang tua Steven sempat bertengkar beberapa kali karena membandingkan Brian dan Steven. Untungnya Brian dan Steven tidaj mengetahui hal tersebut sehingga tidak menimbulkan konflik diantara mereka.

Ujian Sekolah dan Ujian Nasional sudah semakin dekat sehingga murid kelas X dan XI sering pulang pagi. Kesempatan itudigunakan Steven untuk lebih giat berlatih bermain skateboard. Hobby lain yang digeluti Steven yaitu bermain basket. Terkadang dia dan kawan – kawannya bermain di kompleks deket rumahnya. Di SMA nya Steven termasuk orang baru sehingga belum sampai mengikuti perlombaan.

Hari ini Steven libur karena baru diadakan try out untuk murid kelas XII. Steven dan teman – temannya berencana bermain basket. Steven senang hari liburnya terisi dengan hal – hal yang menyenangkan. Steven juga termasuk orang yang nggak suka berdiam diri di rumah. Di rumah kalau punya sparetime biasanya dia gunakan untuk main game.

“wah gue kalah.” Steven sambil mengelap keringatnya dengan handuk.

“lo sih jarang latihan jadi kalah teruskan mainnya.” Kata Rony

“lo masih main skatboard ?” timbrung Andre.

“iya, gue jarang ikut kalian soalnya gue sering di tempat skatboard.” Jawab Steven.

“emang mau ada kompetisi ya ?” tanya Andika.

“enggak sih Cuma latihan biar tambah skill.” Jawab Steven.

“sabtu kita main lagi bisa nggak lo ?” tanya Rony

“sabtu…….” Steven diam sejenak. “kayak bisa deh.” Jawab Steven.

“beneran loh, kita tungguin di sini.” Kata Rony.

“oke.”

Di rumah Brian dan kedua orang tuanya sering melihat siaran berita bareng – bareng. Steven tidak suka dengan hal seperti itu sehingga dia tidak pernah gabung bareng mereka. Beberapa kali Steven diajak Ayahnya buat nonton bareng tapi dia nggak pernah mau. Dulu pernah sekali dia ikut menonton berita selang waktu 5 menit dia sudah tertidur di sofa.

Hari Ujian Nasional pun tiba. Semua murid kelas XII bersemangat untuk menempuhnya. Untuk persiapan biasanya Brian belajar di pagi hari sekitar jam 4 sampai 6 pagi. Brian anak yang tekun sehingga dia sangat giat belajar. Walaupun dia sudah pintar tetapi dia masih terus belajar. Dia tidak pernah meremehkan suatu pelajaran. Karena digunakan untuk ujian maka Steven libur sekolahnya.

“Brian kamu sudah siap belum nak ?” tanya mamahnya. “siap ma.” Jawab Brian. “mengerjakannya dengan tenang aja biar bisa menjawab dengan tepat.”  “siap ma.” “Stev hari ini kamu mau kemana ?” tanya papanya. “mau main basket pa.” “sketboardmu gimana masih terus lanjutkan ?” “masih kok pa.” “semangat ya semoga bisa sampai ikut perlombaan.” “amin.”
Siang hari saat orang tua Steven istirahat mereka pulang ke rumah dan makan siang bersama. Steven nggak ikut karena dia tidak begitu lapar. Orang tuanya tidak tahu kalau Steven sudah ada di rumah. Ketika Steven lewat di depan kamr orang tuanya, dia mendengar suatu perdebatan, kemudian dia menguping pembicaraan kedua orang tuanya. Steven terkejut ternyata yang menjadi perdebatan yaitu dia dan kakaknya. Steven sedih mendengarkan perdebatan itu. Selama ini hanya papanya saja yang membanggakan prestasinya, itupun kalau papanya saat ada di rumah. Tiba – tiba pintu kamat orang tuanya terbuka. Orang tuanya sangat kaget melihat Steven.

“Stev kamu sudah lama di sini ?” tanya papanya.

“lumayan pa.” jawab Steven.

“nggak usah dipikirin pembicaraan papa dan mama.”

“nggak lah pa aku kan emang bukan anak kalian. Anak mama dan papa kan Cuma Brian.”

“ngomong apaan sih kamu itu.” Jawab mamanya.

“loh kan bener apa mama pernah menganggap aku ada ? tiap hari Cuma Brian terus. Kalian nonton bareng juga bertiga. Mungkin aku ini anaknya bik Sumi karena Cuma dia yang memperhatikan keseharianku.” “kamu ini ngomong sama orang tua nggak ad hormat sedikitpun.” Kata mamanya. “sudahlah ma.” Kata papanya. “ngapain aku harus hormat sama kalian, kalian kan bukan orang tuaku. Sana anak anaknya ditungguin baru ujian entar kecapekan sakit lagi.” Kemudian Steven langsung pergi. Ayahnya memanggil beberapa kali tapi tidak di dengarkan oleh Steven.

Hari sudah gelap tetapi Steven belum pulamg. Setiap kali Brian menanyakan Steven orang tuanya hanya menjawab tidak tahu. Orang tuanya tidak ingin Brian mengetahui permasalahan anatara orang tuanya dengan Steven karena takut mengganggu konsentrasi Brian yang masih ujian. Kemudian bik Sumi memberitahukan kepada orang tua Steven ketika mereka makan malam dengan Brian bahwa Steven akan menginap di rumah temannya selama satu minggu tetapi tidak memberitahu nama temennya yang ditumpangi.

“anak itu bukannya bilang orang tuanya malah bilang ke bik Sumi.”kata mama Steven. “inikan juga ulah mama.” Jawab papa. “gara – gara apaan sih ma ?” tanya Brian. “bukan apa – apa kok nak, tadi siang Steven dimarahin mamamu mungkin dia masih marah.” “oo gitu ya coba entar aku hubungi dia.” “iya nanti papa juga mau tanya nginep di rumahnya siapa.”

Setiap hari papa steven mencoba menghubunginya tetapi tidak diangkat sama sekali. Pesan SMS juga tidak pernah di balas. Brian juga mencoba menghubunginya sama saja tidak ada jawaban. Brian merasa aneh mamanya nggak begitu kawatir terhadap adiknya. Memang mamanya sedang sibuk tetapi bukan berarti nggak peduli terhadap anaknya. Brian sempat merasakan keanehan yang ada pada mamanya tetapi orang tuanya selalu menutupi masalah tersebut.

Ketika liburan menjelang habis Steven kembali ke rumahnya. Steven pulang sangat malam. Ketika dia sampai di rumah ayahnya mendengar suara motornya dan langsung bangun membukakan pintu untuknya.

“akhirnya kamu pulang juga nak.” “iya pa.” “kamu udah makan belum.” “ udah, Stev capek mau tidur, dah ya pa.” tetapi ayahnya masih mengikutinya sampai di kamar Steven. “papa mau ngapain ? aku capek banget pa.”maafin mama dan papa ya udah buat kamu tersinggung. “ “ udah biasa kali pa. udah pa aku mau tidur.” “ya udah kalau gitu selamat malam.” Kemudian papanya keluar dari kamar Steven.

Pagi hari ketika sarapan Steven nggak ikut sarapan bareng. Papanya sudah memberitahu kalau dia sudah pulang. Ketika keluar dari kamarnya Steven langsung berpamitan untuk ke sekolah. Brian semakin curiga dengan sikap Steven tetapi orang tuanya belum juga memberitahu masalah sebenarnya walaupun Brian sudah selesai ujian.

Ketika semua penghuni rumah sudah pada berangkat kerja Brian mencoba menanyakan kejanggalan yang dirasakannya kepada bik Sumi. Awalnya bik Sumi tidak memberitahu karena sikap bik Sumi yang terlihat menutup – nutupi. Brian semakin penasaran dan akhirnya bik Sumi memberitahukan masalah yang sebenarnya dengan ketakutan. Brian sempat shock kok bisa – bisanya orang tuanya sampai segitunya. Brian menjadi sangat brsalah terhadap adiknya. Dia kemudian kembali ke kamar untuk mencari cara agar bisa meredamkan kemarahan adiknya. Steven merupakan orang yang sangat keras kepala sehingga sulit untuk ditaklukan.

Dari siang sampai sore Brian menghubungi adiknya tetapi tidak ada jawaban sama sekali. Dia bingung menentukan cara yang tepat. Waktu makan malam Steven baru pulang dan langsung menuju kamarnya dan mengunci pintu kamarnya. Sehabis mandi Brian mengetok – ketok pintu kamar adiknya. Steven hanya menjawab kalau dia sudah mau tidur padahal kenyataannya tidak begitu. Brian masih ngotot ingin masuk. Akhirnya Steven nggak menjawab omongan Brian biar dikira dia sudah tidur.

Keesokan harinya sama Steven langsung berangkat sekolah. Hari ini dia berangkat lebih pagi sehingga keluarganya tidak tahu kalau dia sudah berangkat. Setiap hari Steven menjadi semakin terasing karena berangkat pagi dan pulang malam. Brian semakin kesulitan mendekati adiknya. Ayahnya beberapa kali mencoba banngun lebih awal tapi masih kalah pagi dengan Steven. Hingga kelulusan tiba. Brian lulus dengan nilai yang memuaskan dan diterima di Universitas terbaik di kotanya dengan bidng study guru matematika. Orang tuanya senang sekali tetapi tidak dengan Steven dia merasa biasa saja karena dimana – mana nama Brian yang dibesarkan.

Teman – teman Steven merasa kasihan terhadap steven. Steven menjadi orang yang sering diam. Bercandanya juga tidak seasik yang dulu.

“Stev udah dong jangan baper gitu. Males nih gue ngelihatnya.” Kata Andika.

“ya udah liatin yang laen aja, ngapain lo ngeliatin gue.” Jawab steven.

“emang masalahnya belum kelar ya ?” tanya Rony.
“ udah mungkin menurut penduduk rumah gue.” Jawab Steven.

“lo jadi nge-bete in gitu.” Jawab Rony kesal.

“udah gue mau tiduran dulu.” Steven tiduran di samping lapangan basket.

Steven pulang ke rumah pukul 9 malam. Dia sangat terkejut ketika membuka pintu kamarnya. Di sana sudah ada Brian yang sedang tiduran.

“permisi anda salah kamar.” Kata Steven yang sedikit kesal. “ohh lo udah pulang.” “kamar lo di lantai bawah bukan di sini.” “ya maap udah numpang nggak bilang – bilang.” “udah buruan keluar sana.” “gue mau bicara sama lo.” “bicara apa ? mau pamer lo keterima di Universsitas yang bagus.” “enggak, sewok amat jadi orang.” “males gue sama lo. Buruan mau ngomong apa ?” “gue udah tau kok kenapa lo jadi marah banget sama gue, papa, dan mama,” “ohh orang tua lo udah ngadu ke elo.” “ nggak tu dia nggka bilang. Aku tahu dari bik Sumi.” “terus lo mau ngapa alau lo udah tahu masalahnya ? ngapain lo repot – repot ketemu gue buat ngomongin masalah kayak ginian. Lagian gue juga bukan anak mereka.” “udah dong emosinya. Gue tahu lo marah, lo nggak dihargai nyokap, lo nggak diperhatiin, tapi sebenarnya gue juga nggak mau mama bertindak nggak adil sama kita. Aku udah coba berulang kali ngomong sama mama tapi nggak ada hasil. Makanya aku mau cari cara agar kita bisa menyelesaikan masalah ini.” “ udah nggak usah gue males. Mendingan lo pikirin aja kuliah lo daripada mikirin masalah yang nggak jelas ini.” “Stev dengerin gue dong. Lo keras kepala banget sih.” “biarin, keluar sekarang.” Steven menyerettangan kakaknya keluar dari kamar dan langsung mengunci pintu kamarnya.

Di sekolah Steven sudah lebih mendingan. Ketidakadanya lagi kakaknya di sekolahnya menjadikan ia bernafas lega. Steve jugasengaja mengambil jurusan yang berbeda dengan kakaknya. Dia mengambil jurusan IPS yang menurutnya tidak menguras pikiran yang keras.

Brian merasa frustasi mencari solusi atas permasalahannya. Dia juga dihadapkan persiapan untuk masuk kuliah sehingga dia sudah tidak memikirkan solusi itu. Dia lebih fokus dengan kuliahnya. Brian sudah bertemu dengan materi baru artinya dia juga harus siap berjuang menghadapinya.

Suasana di rumah menjadi terlihat sangat sepi. Mereka jarang bernincang – bincang seperti dahulu. Ayah Steven mencoba menasehati dan memberikan dorongan kepadanya tapi Steven tidak terlalu memperdulikannya. Steven sudah terlanjur sakit hati.

Dua tahun kemudian Steven lulus dariSMA. Nilainya juga masih kalah dengan kakaknya. Dia sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi mamanya. Waktu itu mamanya melakukan hal yang sama dengan Brian. Dia menunggu Steven di kamarnya hingga Steven pulang. Mamanya terlihat kesal karena Steven gagal masuk perguruan tinggi yang sama dengan kakaknya. Steven hanya menjawab dengan santai.

“kamu ini bagaimana kok bisa sesantai iti ? kamu itu belum mendapatkan sekolahan masih bisanya bersantai riya seperti itu.” “tenang aja udah kok ma.” “dimana ?” “di Universitas Swasta di Bandung.” “apa di luar kota ?” “kenapa kamu nggak isin mama dan papa dulu.” “[okoknya aku mau sekolah di luar kota. Aku udah males hidup di rumah yang sumpek ini.” “mama akan membicarakan sama papa. Keputusan besok pagi waktu sarapan kamu harus ikut sarapan pagi.” “ya ma.”

Keesokan harinya orang tua Steven sudah ada di meja makan. Steven datang paling terakhir. Orang tuanya mengijinkan Steven sekolah di luar kota. Orang tuanya sudah mengetahui keras kepala sifat anaknya sehingga mereka mengizinkan anaknya sekolah di luar kota. Mereka takut kalau tidak diizinkan Steven akan bertindak yang lebih membahayakan atau tidak mau sekolah.

Steven mempunyai tekat yang kuat unttuk meraih kesuksesannya. Diasadar akan sikap yang di perlakukan orang tuanya. Dia ingin membuktikan bahwa anak yang selama ini tidak pernah menonjol bisa meraih suatu kesuksesaannya.

Pada saat semester 2 Steven mulai berbisnis dengan membuka online shop. Dia menjual aneka sepatu, tas dan topi untuk pria. Usahanya cukup berjalan lancar. Dia kemudian mencoba dengan berbisnis atribut skatboard. Steven juga mengikuti berbagai UKM di kampusnya untuk memperluas jaringan pemasarannya. Usahanyasemakin berkembang pesat tetapi orang tuanya tidak mengetahui hal itu. Setiap bulan Steven masih menerima uang dari orang tuanya. Diaakan memberitahukan kepada orang tuanya ketika dia sudah suksess. Seiring berjlannya waktu ada beberapa pesaing bisnis yang bermunculan. Akhirnya Steven memutuskan untuk cuti selama satu semester. Dia memiliki cukup modal untuk membangun sebuah temapat yang akan dia gunakan untuk berjualan. Ternyata pengorbanan Steven untuk menunda kuliahnya menunjukkan hasil yang memuaskan. Usaha itu semakin pesat. Kalau Steven sedang kuliah dia menutup tokonya dn kembali jika dia sudah selesai kuliah.

Brian sukses dalam studynya. Dia menjadi PNS dan bekerja menjadi guru matematika di salah satu SMA tempatia tinggal. Steven memberikan ucapan selamat kepada kakaknya lewat SMS. Dia teringat sebetulnya kakaknya tidak sejahat yang dia pikirkan, hanaya saja orang tuanya yang sedikit membedakannya.



Steven
Selamat ya sekarang lo udah jadi Guru
Steven
Baik. Lo gimana ?
Steven
Oke. Siap pak Guru C
Brian
Baik. Kurangi main, inget kamu sekarang uda gede
Brian
Iya makasih ya. Giamana kabar lo sekarang  ?



Steven mengembangkan bisnisnya lagi. Dia mendirikan toko yang menjual atribut skateboard. Dia sudah mepunyai satu pegawai yang menjaga toko tersebut sedangkat toko atunya dia yang menjaga sendiri. Usahanya sukses bisnisnya berkembang luas tetapi orang tuanya belum mengetahui hal tersebut. Steven sudah sering hidup di bawah tekanan orang tuanya sehingga dia bisa menjalani kerasnya hidup di luar kota. Steven juga pernah menjalani kemunduruan dalam bisnisnya tetapi dia mempunya semangat juang yang tinggi sehingga dia dapat bangkit dari keterpurukannya.

Ketika hari kelulusan tiba orang tua Steven datang ke kampusnya untuk menghadiri acara wisuda. Mereka menginap di suatu hotel yang tidak jauh dari kampusnya. Saat itu juga orang tuan Steven belum mengetahui tentang bisnis yang telah ia bangun. Steven lulus dengan nilai cumlaude. Orang tuanya bangga terhadapnya. Sebelum orang tuanya datang jauh – jauh hari Steven meminta orang tuanya untuk tinggal di kota itu selama seminggu. Steven ingin memberikan kejutan prestasi bisnis yang telah ia raih.

Sehari setelah acara wisuda Steven mengajak orang tuanya untuk berkeliling keliling kota bandung. Steven mengajak orang ke toko atribut skatboard. Orang tuanya sangat terkejut ternyata anaknya bisa berbisnis hingga mempunyai pegawai. Steven memperkenalkan pegawainya kepada orang tuanya. Kemudian Steven mengajak ke toko satunya dan dia menceritakan seluk – beluk apa yang ada di toko itu. Orang tuanya sangat senang terlebih mamanya. Kemudian Steven dan orang tuanya makan siang di suatu restauran.

“sejak kapan kamu memulai bisnis ini nak ?” tanya papa Steven. “sejak semester dua pa.” “kok kamu nggak bilang sama papa dan mama.” “sengaja pa aku mau ngasih tahu kalian ketika aku sudah meraih kesuksesanku dalam bisnisku.” “maafin mama ya Stev selama ini mama nggak pernah perhatikan kamu, hanya karena kamunggak terlihat menonjol.” “iya ma. Justru karena mama aku bisa termotivasi untuk lebih sukses.” “tu kan ma apa papa bilang Steven itu berbakat.” “iya mamakan udah minta maaf.”

Kini Steven mempunyai omset yang sangat luar biasa. Hasil bisnisnya lebih besar daripada pendapatan kakaknya. Selain itu Steven juga memutuskan untuk tetap tinggal di bandung dan sudah mempunyai rumah hasil jerih payahnya sendiri. Untuk menambah tabungannya Steven juga bekerja di salah satu Perusahaan di Bandung. Terlihat jelas kini anak yang selalu diabaikan menjadi orang yang lebih sukses dibanding anak yang terlihat selalu menojol. 

-SELESAI -



By : Yesika Ari Pradina

Selasa, 17 November 2015

Don`t judge people if you dont know them

Siang yang semakin memanas dan energi menjadi melemah. Pada saat jam istirahat tiba Aleena masih bermalas – malasan duduk di bangkunya. Meletakkan kepalanya diatas meja seperti orang yang tidak mempunyai tenaga.

“kamu kenapa al bete gitu.” Siska datang dan langsung duduk di samping aleena.


“aku laper.” Aleena masih menunduk.


“laper ya ke kantinlah, apa udah lupa jalan ke kantin ?”.


“enggak gitu aku males banget ke sana kantinnya jauh dan udaranya panas banget.”


“yee ilah ayo buruan bangun aku juga laper nih.”


“iya iya bentar.”


Aleena berjalan menuju kantin debgan siska. Sangking panasnya Aleena sampai menghabiskan dua botol air mineral. Mereka berbincang – bincang seputar apapun yang mereka alami. Tiba – tiba datang seorang cowok bebadan tegak lebar , tidak terlalu tinggi, kulit sawo matang, berambut hitam yang tertata rapi dengan seorang temannya. Mereka berdua duduk di belakang meja Aleena dan Siska. 


Cowok itu merupakan cowok yang disukai Aleena. Ketika dia di kelas sepuluh dia sekelas dengan Aleena tapi ketika di kelas sebelas udah beda kelas karena cowok itu mengambil jurusan IPS sedangkan Aleena mengambil jurusan  IPA. Aleena sudah satu tahun memendam rasa terhadap cowok itu. Anehnya Aleena sangat jarang sekali berbicara dengan cowok itu entah malu atau takut salah tingkah mungkin. Cowok itu juga nggak tahu kalau Aleena mempunyai rasa terhadap cowok itu. Ketika bertemudengan cowok itu Aleena bersikap biasa saja tapi ketika cowok itu udah menghilang dia jingkrak – jingkrak seperti cacing kepanasan.


Waktu istirahat sudah habis bel telah berbunyi, Aleena dan Siska kembali ke kelas.wajah Aleena masih terlihat merah merona akibat terpesona sang pujangga.


“kamu sekali – kali nyapa kek. Kan kamu juga kenal sam dia.” Sahut Siska. “gak ah.. takut salting hehehe.” “ kamu ini payah banget kapan si doi tahu kalaukamunya aja gak ada progres deketin dia, tahu tahu entar diembat orang loh.” “entar kalau udah waktunya aku maju deh.” “tapi kapan ?” “kapan –kapan . hehehe… ayo buruan udah masuk nih.”


Saat pelajaran Aleena masih tidak fokus dengan materi yang diajarkan gurunya. Pikirannya masih teringang – ingang dengan wajah cowok yang ada di kantin tadi. Sampai jam pulang sekolah Aleena masih tersenyam – senyum sendiri. Siska hanya melihat Aleena terheran bingung. 


“ayo pulang ntar bibirmu pegel loh senyam – senyum gitu terus.”


“ayo.” Pikirannya Aleena masih pada cowok itu.


Sesampai di rumah Aleena berpikir bagaimana cara untuk dia bisa ngomong sekedar basa – basi di depan cowok yang dia suka. Aleena mencari – cari topik apa yang cocok untuk dibicarakan. Tanpa ia sadari Aleena sampai berbicara sendiri di kamarnya. Dia membayangkan andaikan dia bisa melangkah satu titik untuk mendekati cowok idamannya itu.


Sore itu Aleena mencoba bertanya kepada kakaknya. Dia sebernarnya malu sih kalau mau tanya soal hal itu. Dia takut ditertawain sama kakaknya. Ketika dia membuka kamar kakaknya ternyata kakaknya nggak ada. Terlihat wajah kecewa di raut muka Aleena. Setelah dia bertanya kepada bik Atik ternyata hari ini kakaknya nginep di Kosnya temennya karena ada tugas yang begitu banyak. Aleena semakin kesal mau gak mau dia harus cari cara sendiri. Kemudian ia pergi ke kamarnya dan berpikir lagi untuk mendapatkan cara yang tepat. Aleena kebingungan sudah menemukan cara itu tapi dia tidak berani melakukannya, karena dia sudah kebingungan dan menjadi stress dia akhinya menyalakan televisi dan menonto sambil berbaring di tempat tidurnya. Acara televisi yang membosankan membuat Aleena tertidur dalam beberapa menit dan ketiduran sampai keesokan harinya.


Badan Aleena terasa pegal – pegal karena tidur dalam waktu yang lama. Saat sarapan dia masih memijat – pijat pundaknya. “kamu habis ngapain kok kayaknya kecapean gitu, pijat – pijat pundak terus.” Tanya mama Aleena. “ini ma kemaren aku tidur terlalu lama jadi kayak gini deh.” “kemarin waktu mau makan malem mama bangunin kamu nggak bangun – bangun ya udah mama tinggal deh.” “masak sih ma ?” “iya tanya aja papa kalau nggak percaya, tumben banget kamu tidur lelap banget. Kemarin pelajaran di sekolah banyak banget ya kok kamu sampai kecapaian ?” “nggak juga sih ma, nggak tahu kenapa tubuh seperti ini.” “ntar pulang kerja mama beliin kamu vitamin biar nggak gampang capek.” “nggak usah deh ma, paling ntar udah normal sendiri badanku.” “heh kamu ini vitamin juga membantu kamu biar nggak gampang sakit. Pokoknya nanti mama beliin dan kamu harus minum.” “iya deh ma.” “gitu dong nurut.” “aku berangkat dulu ya ma, pa.” “iya ati – ati nak.”


Hati Aleena tiba – tiba deg – deg an. Dia melihat sesosok cowok idamannya. Aleena bingung mau gimana, dia udah terlihat sedikit salah tingkah. Akhirnya dia memberanikan diri untu menyapanya. Dan alhasil berhasil dia bisa membuat sedikit pebincangan dengan cowok itu. Aleena merasa sangat senang sekali. Dia baru kali ini bisa ngomong agak lam dengan cowok itu. Sesampai di depan kelas bel sudah berbunyi dan Aleena langsung menuju tempat duduknya. 


Waktu pelajaran berlangsung Aleena menceritakan kejadian yang dialaminya tadi pagi. Siska juga senang mendengar kabar tersebut. Siska telah lega akhirnya Aleena berani bergerak di hadapan cowok yang ia sukai. Ini merupakan langkah awal yang baik untuk Aleena. Tanpa mereka sadari guru yang menerangkan mendekati mereka dan akhirnya mereka berdua dihukum.


Keesokan harinya Aleena semakin berani mendekati gebetannya. Dia menjadi sering ngobrol bareng bersamanya. Cowok itu belum menyadari kalau Aleena menyukainya. Suatu ketika teman cowok itu menanyai tentang kedekatan cowok itu dengan Aleena. Cowok itu kaget dia hanya menganggap Aleena sebagai teman biasa dan gak lebih. Cowok itu akhirnya menjadi sedikit sombong. Ketika dia bertemu dengan Aleena menjadi sok jual mahal. Aleena merasakan perubahan yang ada pada cowok itu. Aleena semakin menjadi sedih cowok itu menjadi cuek.


Aleena bercerita kepada Siska tentang perubahan cowok gebetan Aleena. Siska sangat terkejut melihat hal tersebut. Dia menjadi sangat marah dengan cowok itu. Siska menganggap cowok itu hanya ingin mempermainkan Aleena saja.


Pada hari minggu Aleena nongkrong di cafĂ© yang cukup populer di kotanya. Aleena dan Siska bercerita – cerita tentang hal apapun termasuk kesedihan Aleena. Tiba – tiba cowok itu datang bersama sekumpulan teman – temannya. Awalnya cowok itu bersikap biasa saja tetapi setelah melihat Aleena dia mencoba membuat kecemburuan. Cowok itu bermesra – mesra ria dengan teman ceweknya. Melihat hal itu Aleena langsung meneteskan air mata dan langsung keluar. Aleena sangat kecewa dengan cowok itu.


Cowok itu menganggap bahwa Aleena itu tidak ada apa – apanya, dia hanya memiliki kelebihan yaitu berupa kepintaran tetapi tidak begitu cantik. Aleena tergolong cewek yang biasa saja karena dia merupakan cewek yang tidak suka berdandan. Semakin hari cowok itu semakin terlihat tidak suka terhadap Aleena.


Aleena sempat sakit karena hal tersebut. Cinta pertamanya pupus seketika. Hatinya hancur dan prestasinya sempat menurun. Sebagai sahabat siska tidak hanya diam saja, dia setiap hari memberi semangat untuk Aleena agar dia bisa bangkit dari keterpurukannya.


Beberapa minggu kemudian Aleena mulai bangkit dan hidup seperti biasa. Sakit hatinya itu dijadikan pelajaran bahwa ilmu itu lebih penting daripada jalinan sebuah cinta. Dari peristiwa itu Aleena menjadi lebih sering menyibukkan diri dengan belajar. Belajar hal – hal baru, belajar ilmu pengetahuan, dan belajar memaknai sebuah kehidupan.


Di kelas XII Aleena berhasil memenangkan juara olimpiade matematika. Semua guru sangat bangga kepada Aleena. Aleena mengharumkan nama sekolah tempat ia belajar. Orang tua Aleena juga banggga. Setelah Aleena meraih kesuksesaannya cowok itu mendekati Aleena dan bilang suka padanya. Aleena hanya menjawab terima kasih atas sakit hati yang kamu buat dulu Aleena memang mengidamkan sesosoknya tetapi kini dia lebih mengedapankan prestasinya. Berkat sakit hati A;eena menjadi orang yang lebih pandai dari sebelumnya. 


Cowok itu merasa kecewa karena dulu dia telah mengecewakan Aleena. Dia baru tersadar bahwa kepandaian lebih penting daripada kecantikan. Semenjak kejadian itu cowok itu menjadi malu ketika bertemu dengan Aleena.




By : Yesika Ari Pradina


Minggu, 15 November 2015

My Mother My Hero



Mother is a people who stong.
She pregant me until nine mount.
She willing dispart her nutrition  of food with me.
Her weigh always be increase.
She is not sigh.
Everyday she bring me to everywhere.
When I will born she fighting for her life.
The struggle still do.
When I was born she guart me be patient.
She never angry with me.
In the midnight I wake up and crying and then my mother also wake up.
She make me sleep again.
Everyday she alswas take care of me.
Her affection very honest and straightforwad.


Now I grow to be adult.
My mother still strong.
She still workhard.
She defrayed all of that I need, such as : school, book, fashion, shoes, bag, and all everithing. Actually I have father but he not be responsible with me and my mother. He just enjoy with hisself.
Problably I hate my Father.
From I school in Elementary school until now in University all about defrayed did paid by my mother.



My father often be angry.
He broke many thing and he trust my mother.
It is make me be angry with my father and become make rebellius.
It also my reason to not want has a boyfriend until now.
I think all of boy same with my father although actually I know it is not all.
My attitude with all boy become coarse.
And I opportunity school in vocational high school.
Because in there a number of boy is little.
But now I can change my attitude with all of boy.
I just hire a performer badboy is my father.
It is not mean I want have a boyfriend.
It is false.
I am happy alone because behabitually be alone.
I thank to God was give me a strong mother.
I hope God give longage to my mother in order that I can make neatitude to my mother.
Love your mother and make she proud with you. 

by : Yesika Ari Pradina